Kamis, 13 Juni 2013
Kamis, 23 Agustus 2012
Kegiatan Ramadhan & Idul Fitri 1433 H
Penghitungan Hasil Zakat Fitrah oleh Unit Pengumpul Zakat Masjid Ash Shalihin pada Ramadhan 1433 H
Penyerahan Zakat Fitrah secara simbolis kepada anak yatim oleh Imam Masjid Ash Shalihin Bpk. Hi. Abdulrahman Bachdin, S.Ag
Tawaf bersama Lembaga Keimaman, Badan Ta'mirul Masjid, Remaja Masjid, UPZ, Lembaga Pengurus Pekuburan & Jamaah Masjid Ash Shalihin Dendengan Dalam
Selasa, 14 Agustus 2012
Seputar Jabat Tangan
Al Hattab (ulama madzhab Malikiyah) mengatakan : “Para ulama kami (Malikiyah) mengatakan : Jabat tangan artinya meletakkan telapak tangan pada telapak tangan orang lain dan ditahan beberapa saat, selama rentang waktu yang cukup untuk menyampaikan salam.” (Hasyiyah Al Adzkar An Nawawi oleh Ali Asy Syariji, hal. 426)
Ibn Hajar mengatakan : “Jabat tangan adalah melekatkan telapak tangan pada telapak tangan yang lain.” (Fathul Bari, 11/54)
Hukum
An Nawawi mengatakan : “Ketahuilah bahwasanya jabat tangan adalah satu hal yang disepakati sunnahnya (untuk dilakukan) ketika bertemu.”
Ibn Batthal mengatakan : “Hukum asal jabat tangan adalah satu hal yang baik menurut umumnya ulama.” (Syarh Shahih Al Bukhari Ibn Batthal, 71/50)
Namun penjelasan di atas berlaku untuk jabat tangan yang dilakukan antara sesama laki-laki atau sesama wanita.
Berikut adalah dalil-dalil dianjurkannya jabat tangan:
Qatadah bertanya kepada Anas bin Malik: “Apakah jabat tangan itu dilakukan diantara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Anas menjawab: “Ya.” (HR. Al Bukhari, 5908)
Abdullah bin Hisyam mengatakan : “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau memegang tangan Umar bin Al Khattab.”(HR. Al Bukhari 5909)
Ka’ab bin Malik mengatakan : “Aku masuk masjid, tiba-tiba di dalam masjid ada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berlari menyambutku, menjabat tanganku dan memberikan ucapan selamat kepadaku.” (HR. Al Bukhari 4156)
Dan beberapa hadis lainnya yang akan disebutkan dalam pembahasan keutamaan berjabat tangan.
Akan tetapi dikatakan bahwasanya Imam Malik membenci jabat tangan. Dan ini merupakan pendapat Syahnun dan beberapa ulama Malikiyah. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah ta’ala ketika menceritakan salamnya Malaikat kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah berfirman, yang artinya: “(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan : ‘Salaamun’ Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” (QS. Ad Dzariyat: 25)
Pada ayat di atas, malaikat hanya menyampaikan salam kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan mereka tidak bersalaman. Sehingga Malikiyah berkesimpulan bahwa di antara kebiasaan orang saleh (nabi Ibrahim & para Malaikat) adalah tidak berjabat tangan ketika ketemu, tetapi hanya mengucapkan salam.
Namun, yang lebih tepat, pendapat Imam Malik yang terkenal adalah beliau menganjurkan jabat tangan. Hal ini dikuatkan dengan sebuah riwayat, di mana Sufyan bin ‘Uyainah pernah menemui beliau dan Imam Malik bersalaman dengan Sufyan. Kemudian Imam Malik mengatakan : “Andaikan bukan karena bid’ah, niscaya aku akan memelukmu.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan : “Orang yang lebih baik dari pada aku dan kamu yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memeluk Ja’far ketika pulang dari negeri Habasyah. Kata Malik: “Itu khusus (untuk Ja’far).” Komentar Sufyan : “Tidak, itu umum. Apa yang berlaku untuk Ja’far juga berlaku untuk kita, jika kita termasuk orang saleh (mukmin).” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/13949)
Kesimpulannya, bahwasanya pendapat yang paling tepat adalah dianjurkannya berjabat tangan antar sesama. Mengingat banyak dalil yang menegaskan hal tersebut. Sedangkan adanya pendapat yang menyelisihi hal ini terlalu lemah ditinjau dari banyak sisi.
Keutamaan Berjabat Tangan
Terampuninya dosa
Dari Al Barra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan kecuali akan diampuni dosa keduanya selama belum berpisah.” (Shahih Abu Daud, 4343)
Dari Hudzifah bin Al Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“ Sesungguhnya seorang mukmin jika bertemu dengan mukmin yang lain, kemudian dia memberi salam dan menjabat tangannya maka dosa-dosa keduanya akan saling berguguran sebagaimana daun-daun pohon berguguran.” (Diriwayatkan oleh Al Mundziri dalam At Targhib dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam As Shahihah, 525)
Menimbulkan rasa cinta antara orang yang saling bersalaman
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kalian aku tunjukkan suatu perbuatan yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai?” yaitu : “Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim 93)
Jika semata-mata mengucapkan salam bisa menimbulkan rasa cinta maka lebih lagi jika salam tersebut diiringi dengan jabat tangan.
Terdapat beberapa hadis dalam masalah ini, namun semuanya tidak lepas dari cacat. Di antaranya adalah:
“Lakukanlah jabat tangan, karena jabat tangan bisa menghilangkan permusuhan.” Tetapi hadis ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (Ad Dha’ifah, 1766)
“Lakukanlah jabat tangan, itu akan menghilangkan kedengkian dalam hati kalian.” (HR. Imam Malik dalam Al Muwatha’ dan didhaifkan oleh Syaikh Al Albani)
Terlepas dari hadis di atas, telah terbukti dalam realita bahwa berjabat tangan memiliki pengaruh dalam menghilangkan kedengkian hati dan permusuhan.
Berjabat tangan merupakan ciri orang-orang yang hatinya lembut
Ketika penduduk Yaman datang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Penduduk Yaman telah datang, mereka adalah orang yang hatinya lebih lembut dari pada kalian.” Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkomentar tentang sifat mereka: “Mereka adalah orang yang pertama kali mengajak untuk berjabat tangan.” (HR. Ahmad 3/212 & dishahihkan Syaikh Al Albani, As Shahihah, 527)
Mencium Tangan Ketika Jabat Tangan
Ibn Batthal mengatakan:
“Ulama berbeda pendapat dalam menghukumi mencium tangan ketika bersalaman. Imam Malik melarangnya, sementara yang lain membolehkannya.”(Syarh Shahih Al Bukhari, Ibn Batthal 17/50)
Di antara dalil yang digunakan oleh ulama yang membolehkan adalah:
Abu Lubabah & Ka’ab bin Malik, serta dua sahabat lainnya (yang diboikot karena tidak mengikuti perang tabuk) mencium tangan Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam ketika taubat mereka diterima oleh Allah. (HR. Al Baihaqi dalam Ad Dalail & Ibn Al Maqri. Disebutkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath tanpa komentar)
Abu Ubaidah mencium tangan Umar ketika datang dari Syam (HR. Sufyan dalam Al Jami’ & disebutkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath tanpa komentar)
Zaid bin Tsabit mencium tangan Ibn Abbas ketika Ibn Abbas menyiapkan tunggangannya Zaid. (HR. At Thabari & Ibn Al Maqri. Disebutkan oleh Al Hafizh dalam Al Fath tanpa komentar)
Usamah bin Syarik mengatakan: “Kami menyambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami mencium tangannya.” (HR. Ibn Al Maqri, Kata Al Hafizh: Sanadnya kuat.”)
Dan masih banyak beberapa riwayat lainnya yang menunjukkan bolehnya mencium tangan ketika berjabat tangan. Bahkan Ibn Al Maqri menulis buku khusus yang mengumpulkan beberapa riwayat tentang bolehnya mencium tangan ketika berjabat tangan.
Satu hal yang perlu diingat bahwasanya mencium tangan ini diperbolehkan jika tidak sampai menimbulkan perasaan mengagungkan kepada orang yang dicium tangannya dan merasa rendah diri di hadapannya. Karena hal ini telah masuk dalam batas kesyirikan. (lih. Al Iman wa Ar Rad ‘ala Ahlil Bida’, Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alu Syaikh)
An Nawawi mengatakan: “Mencium tangan seseorang karena sifat zuhudnya, salehnya, amalnya, mulianya, sikapnya dalam menjaga diri dari dosa, atau sifat keagamaan yang lainnya adalah satu hal yang tidak makruh. Bahkan dianjurkan. Akan tetapi jika mencium tangan karena kayanya, kekuatannya, atau kedudukan dunianya adalah satu hal yang makruh dan sangat di benci. Bahkan Abu Sa’id Al Mutawalli mengatakan: “Tidak boleh” (Fathul Bari, Al Hafizh Ibn Hajar 11/57)
Berdasarkan beberapa keterangan ulama di atas dan dengan mengambil keterangan ulama yang lain, disimpulkan bahwa mencium tangan diperbolehkan dengan beberapa persyaratan :
· Tidak sampai menimbulkan sikap mengagungkan orang yang dicium
· Tidak menimbulkan sikap merendahkan diri di hadapan orang yang dicium, karena kemuliaan dan kedudukan dalam agama dan bukan karena dunianya
· Tidak dijadikan kebiasaan, sehingga mengubah sunnah jabat tangan biasa
· Orang yang dicium tidak menjulurkan tangannya kepada orang yang mencium (keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah)
Keistimewaan, Ciri dan Tanda Malam Lailatul Qadar (Malam Seribu Bulan)
Bulan Puasa Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Salah satu
keistimewaan bulan ini adalah satu malam yang paling ditunggu-tunggu oleh umat
Islam di seluruh dunia, yakni Lailatul Qadar (malam seribu bulan). Banyak ayat
di dalam Al-Quran yang menceritakan tentang keistimewaan malam ini. Diantaranya
adalah Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu
lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan
malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu
(penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS: Al-Qadr (97) ayat 1-5).
Dikatakan satu malam dengan barakah seperti 1000 bulan, karena di malam
tersebut para malaikat dan Jibril turun ke bumi serta memohon kepada Allah SWT
agar mengkabulkan doa’-do’a hambanya. Kemuliaan malam ini berakhir dengan
terbitnya fajar. Lantas tahukah Anda mengenai tanda-tanda malam Lailatul Qadar
itu akan datang? Berikut adalah beberapa tanda yang pernah digambarkan
olehRasulullah SAW dalam beberapa hadistnya.
1. Udara
dan suasana pagi yang tenang. Dari Ibnu Abbas radliyallahu’anhu, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda : “Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang,
tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya
terbit dengan sinar lemah berwarna merah”.
2. Cahaya
matahari melemah keesokan harinya, bersinar cerah tapi tidak kuat. Dari Ubay
bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Keesokan hari
malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak
nampan”.
3. Bulan
nampak separuh bulatan. Dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu, bahwasanya
Rasulullah SAW bersabda: “Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan
muncul, yang berukuran separuh nampan”.
4. Malam
yang terang, tidak dingin, tidak berawan, tidak hujan, tidak panas, tidak ada
angin kencang, dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan binatang
(lemparan meteor bagi setan). Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin
al-Asqo’ dari Rasulullah SAW: “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak
panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan
tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi
setan)”.
5. Terkadang
terbawa ke dalam mimpi. Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat
Nabi radliyallahu’anhum.
6. Orang
yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati
dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam
lainnya.
Semoga dengan keterangan di atas, semakin menambah kesempurnaan
Kita dalam melaksanakan Puasa Ramadhan kali ini.
Lima Calon Penghuni Neraka
MISI Rasulullah adalah memberi kabar gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali (QS. Saba’: 28). Oleh karenanya, kita menemukan sangat banyak hadits yang berisi kabar gembira seperti jaminan kemenangan Islam dan keindahan surga; atau berisi peringatan seperti pasti hancurnya kebatilan dan kengerian neraka. Sebagian hadits beliau bahkan memberikan rincian cukup detil, sehingga semakin mudah diamalkan.
Di antara rincian detil yang pernah beliau ungkapkan adalah ciri-ciri calon penghuni neraka. Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’ie, diantaranya beliau menyebutkan sifat lima golongan yang kelak akan menjadi penghuni neraka. Mari kita teliti satu per satu, semoga kita bisa mengintrospeksi diri dan menghindarinya.
Pertama, orang lemah yang tidak berakal.Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud adalah orang yang tidak memiliki akal yang bisa mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak pantas. Dalam Mirqatul Mafatih, Mulla ‘Ali Al-Qari menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak punya keinginan selain memenuhi isi perutnya dengan segala cara, tidak perduli halal maupun haram. Keinginan terbesar mereka tidak pernah beranjak naik dari tingkatan hewani ini, baik dalam urusan agama maupun duniawinya. Perkara ini senada dengan firman Allah:
ذَلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى
“Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Najm: 30).
Kedua, pengkhianat. Teks haditsnya menjelaskan bahwa orang ini memang tidak tampak nyata sifat khianatnya, namun dia punya keinginan ke arah sana. Jika ada kesempatan, meskipun sangat kecil, niscaya dia akan berkhianat juga. Na’udzu billah. Oleh karenanya, Rasulullah pernah menyatakan bahwa satu diantara tiga tanda orang munafik adalah suka berkhianat. Allah juga pernah menyinggung sifat orang semacam ini dalam firman-Nya:
وَلاَ تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّاناً أَثِيماً
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطاً
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bisa bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, dan Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa': 107-108).
Ketiga, penipu. Dalam hadits itu disebutkan: “Seseorang yang tidak memasuki waktu pagi maupun sore melainkan ia pasti menipumu, baik dalam urusan hartamu maupun keluargamu.” Tidak salah lagi, orang ini pasti penipu tulen, tembus dari permukaan kulit sampai tulang sungsumnya! Bayangkan, tidak pagi tidak sore, pekerjaannya melulu hanya menipu, menipu, dan menipu, dalam segala hal. Adakah kebaikan yang bisa diharapkan darinya? Apakah Allah bersedia mengasihi dan menghindarkan orang semacam ini dari neraka?
Keempat, pembohong atau orang pelit. Sebagian riwayat menyebut “pembohong”, sedangkan riwayat lainnya menyitir “orang pelit”. Mana pun dari keduanya yang tepat, sama saja buruknya. Dikatakan dalam sebuah hadits: “Ada tiga hal yang membuat (seseorang) binasa, yaitu sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan ketakjubannya pada diri sendiri.” (Riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan li-ghairihi). Adapun tentang berbohong, kita sudah diberitahu bahwa ia adalah satu diantara tiga ciri kemunafikan. Padahal, Allah telah menyatakan bahwa orang munafik kelak akan berada di kerak neraka, yakni yang paling dahsyat siksaannya (QS. an-Nisa’: 145). Na’udzu billah.
Kelima, orang yang berakhlak buruk dan banyak berkata/berbuat keji. Tidak sedikit ayat atau hadits yang menganjurkan akhlak terpuji, dan sebaliknya melarang dari akhlak tercela. Bentuknya bisa bermacam-macam, karena memang variasinya pun sangat luas. Maka, ketika menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka berkata/berbuat kotor, dan bukan pula orang yang suka melaknat.” (Riwayat Bukhari).
Diceritakan pula bahwa ada seseorang yang mencela Usamah bin Zaid dengan celaan yang sangat buruk. Ketika itulah Usamah berkata, “Sungguh engkau telah menyakitiku. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasannya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji. Dan sungguh, engkau ini orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits hasan).
Bila logikanya kita balik, kelima sifat diatas bisa diperjelas oleh hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga? Beliau menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik.” (Riwayat al-Hakim. Menurut adz-Dzahabi: hadits shahih). Maksudnya, kelima sifat diatas seluruhnya merupakan kebalikan dari ketakwaan dan akhlak mulia, yaitu: tidak berpegang pada nilai-nilai kebajikan, suka menipu, gemar berkhianat, pembohong, pelit, dan banyak berbuat keji; sehingga buahnya pun berkebalikan dari surga, yaitu neraka. Semoga Allah membimbing kita semua untuk menjauhinya. Amin. Wallahu a’lam.
Sumber : Hidayatullah.com
Jumat, 29 Juni 2012
MUTIARA HADIST
Barangsiapa
di antara kamu melihat kemungkaran, maka ia harus mencegah dengan tangannya,
jika tidak mampu, maka dengan lisannya dan jika tidak mampu, maka dengan
hatinya dan yang demikian itu selemah-lemahnya iman
Hadist riwayat Muslim
Hai
Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya yaitu
shalat apabila tiba waktunya. Jenazah
bila sudah siap panguburannya dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan
laki-laki yang sepadan meminangnya.
Hadist riwayat Ahmad
Sesungguhnya
air mendidih disiramkan atas kepada mereka (penghuni neraka), lalu air yang
mendidih itu menembus hingga sampai diperutnya kemudian memotong apa yang ada
di dalam perutnya hingga keluar dari kedua telapak kakinya dalam keadaan cair,
kemudian dikembalikan seperti semula.
Hadist riwayat Tirmidzi
Hakim-hakim
itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang
yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang
yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di
neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam
memberikan keputusan, maka dia di neraka
Hadist riwayat Abu
Daud, Tirmidzi, Nasa�l, Ibnu Majah dan Hakim
diriwayatkan
dari Ka'b bin Malik ra. : kami memiliki sejumlah biri-biri yang biasa merumput
di Sa'l. satu dari beberapa budak perempuan kami melihat seekor biri-biri yang
sekarat. lalu ia memecahkan batu dan menyembelihnya. ayahku berkata,
"jangan dahulu dimakan sebelum aku bertanya kepada Nabi Muhammad SAW
perihal itu". maka ia pun bertanya atau mengutus seseorang bertanya kepada
Nabi Muhammad SAW dan Nabi Muhammad SAW membolehkan mereka untuk memakannya.
Hadist riwayat Bukhari
diriwayatkan
dari (Abu Hurairah) ra. : Rasulullah SAW pernah bersabda, " demi Dia yang
Menggenggam diriku, sesungguhnya bahwa putra Maryam (Isa a.s.) akan turun
diantara kalian (orang-orang muslim). ia akan menjadi hakim yang adil bagi
manusia dengan berdasarkan Al
Quran dan akan mematahkan salib serta membunuh babi; ia akan menghapuskan
Jizyah (pajak yang diambil dari non muslim yang berada di dalam perlindungan
pemerintahan muslim), akan mendatangkan kemakmuran sedemikian rupa sehingga
tidak akan ada orang yang mau menerima sedekah".
Hadist riwayat Bukhari
Tinggalkan
apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu
Hadist riwayat
At-Tirmidzi
Ibn
Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW. bersabda: aku diperintah memerangi
orang-orang sehingga mereka mengucapkan kalimat syahadat bahwa tiada Tuhan
kecuali Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat dan
mengeluarkan zakat, maka bila mereka telah mengerjakan semua itu berarti telah
terpelihara daripadaku darah dan harta mereka kecuali dengan hak kewajiban
dalam Islam, dan perhitungan mereka terserah kepada Allah.
Hadist riwayat Bukhari,
Muslim
Abu
Hurairah ra. berkata : Pada suatu hari ketika Nabi SAW. duduk bersama sahabat,
tiba-tiba datang seorang bertanya : Apakah iman ? Jawab Nabi SAW. : Iman ialah
percaya pada Allah, dan Malaikat-Nya, perjumpaan dengan Allah, Nabi utusan-Nya
dan percaya pada hari bangkit dari kubur. Lalu ditanya : Apakah Islam ? Jawab
Nabi SAW.: Islam ialah menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu apapun, dan mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan puasa di bulan
Ramadhan. Lalu bertanya : Apakah Ihsan? Jawab Nabi SAW.: Ihsan ialah menyembah
Allah seakan-akan engkau melihatNya, maka jika engkau tidak melihatNya,
ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Lalu dia bertanya : Bilakah hari kiamat ?
Jawab Nabi SAW.: Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari orang yang bertanya,
tetapi aku memberitakan padamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari
kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika
penggembala unta dan ternak lainnya telah berlomba membangun gedung-gedung.
Persoalan ini termasuk dalam lima macam perkara yang tidak dapat mengetahuinya
kecuali Allah, yang tersebut dalam ayat : "Sesungguhnya hanya Allah yang
mengetahui, bilakah hari kiamat, dan Dia pula yang menurunkan hujan, dan
mengetahui apa yang di dalam rahim ibu, dan tiada seorangpun yang mengetahui
apa yang akan terjadi esok hari, dan tidak seorangpun yang mengetahui dimanakah
ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui sedalam-dalamnya."
Kemudian pergilah orang itu. Lalu Nabi SAW. menyuruh sahabat : Kembalikanlah
orang itu! Tetapi sahabat tidak melihat bekas orang itu. Maka Nabi SAW.
bersabda : Itu Malaikat Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada manusia.
Hadist riwayat Bukhari,
Muslim
Diriwayatkan
dari Al-Musayyab bin Hazn ra. : pada saat-saat terakhir kematian Abu Thalib,
Rasulullah SAW pergi mengunjunginya dan menemukan Abu Jahl bin Hisyam dan
Abdullah bin Abi Umayyah bin Al Mughirah, disampingnya. Rasulullah SAW
bersabda, "wahai paman, katakanlah : Laa
Ilaaha Illallaah, kalimat yang akan membuatku bersaksi untuk anda di
hadapan Allah". Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, "wahai
Abu Thalib! Apakah engkau akan mencela agama Abdul Muthalib?" Rasulullah SAW
berulang kali mengucapkannya sementara mereka (Abu Jahl dan Abdullah bin Abi
Umayyah) terus menerus mengulang pernyataan mereka hingga Abu Thalib
mengucapkan pernyataan terakhirnya bahwa ia masih memegang agama Abdul Muthalib
dan menolak mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Kemudian Rasulullah Saw bersabda,
"aku akan memohonkan ampunan Allah untuk anda selama aku tidak dilarang
melakukannya". Maka Allah menurunkan ayat yang berkaitan dengannya. Ayat
yang dimaksud ; tiadalah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman bahwa
mereka memintakan ampunan bagi orang yang musyrik sekalipun mereka kaum kerabat,
setelah nyata kepadanya bahwa mereka adalah penghuni neraka (QS At Taubah [9]:
113)
Hadist riwayat Bukhari
Kamis, 21 Juni 2012
Keistimewaan Bulan Sya’ban
Tak terasa bulan syaban tiba Nabi SAW. bersabda : “Bahwa Rajab itu bulan Allah, Sya’ban bulanKu dan Ramadhan adalah bulan ummat-Ku”.
Syaban tiba Nabi SAW. bersabda : “Bahwa Rajab itu bulan Allah, Sya’ban bulanKu dan Ramadhan adalah bulan ummat-Ku”. Kita telah memasuki bulan Sya’ban 1433 H yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya.Rasulullah saw bersabda: “…Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku…” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)Rasulullah saw bersabda : “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah.
Barangsiapa yang berpuasa satu hari, maka wajib baginya surga. Barangsiapa yang dua hari, maka ia akan menjadi sahabat para nabi dan shiddiqin pada hari kiamat. Barangsiapa yang berpuasa penuh satu bulan dan bersambung dengan bulan Ramadhan, maka dosa-dosa diampuni, dosa kecil maupun dosa besarnya walaupun ia berasal dari darah haram.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 55)Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: Ketika bulan Sya’ban tiba Ali Zainal Abidin (sa) mengumpulkan para sahabatnya kemudian berkata: “Wahai sahabat-sahabatku, tahukah kalian bulan apakah ini? Bulan ini adalah bulan Sya’ban, Nabi saw bersabda : ‘Bulan Sya’ban adalah bulanku, berpuasalah kamu di bulan ini karena cinta kepada Nabimu dan mendekatkan diri kepada Tuhanmu’. Aku bersumpah, demi Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku mendengar ayahku Al-Husein (sa) berkata: ‘Aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) berkata: ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Sya’ban karena cinta kepada Rasulullah saw dan mendekatkan diri kepada Allah, Dia mendekatkannya pada kemuliaan-Nya pada hari kiamat dan mewajibkan baginya surga’.” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)Rasulullah saw bersabda: “…Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku…” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)Rasulullah saw bersabda : “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah.
Barangsiapa yang berpuasa satu hari, maka wajib baginya surga. Barangsiapa yang dua hari, maka ia akan menjadi sahabat para nabi dan shiddiqin pada hari kiamat. Barangsiapa yang berpuasa penuh satu bulan dan bersambung dengan bulan Ramadhan, maka dosa-dosa diampuni, dosa kecil maupun dosa besarnya walaupun ia berasal dari darah haram.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 55)Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: Ketika bulan Sya’ban tiba Ali Zainal Abidin (sa) mengumpulkan para sahabatnya kemudian berkata: “Wahai sahabat-sahabatku, tahukah kalian bulan apakah ini? Bulan ini adalah bulan Sya’ban, Nabi saw bersabda : ‘Bulan Sya’ban adalah bulanku, berpuasalah kamu di bulan ini karena cinta kepada Nabimu dan mendekatkan diri kepada Tuhanmu’. Aku bersumpah, demi Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku mendengar ayahku Al-Husein (sa) berkata: ‘Aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) berkata: ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Sya’ban karena cinta kepada Rasulullah saw dan mendekatkan diri kepada Allah, Dia mendekatkannya pada kemuliaan-Nya pada hari kiamat dan mewajibkan baginya surga’.” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)Rasulullah saw bersabda : “Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah. Barangsiapa yang berpuasa satu hari, maka wajib baginya surga. Barangsiapa yang dua hari, maka ia akan menjadi sahabat para nabi dan shiddiqin pada hari kiamat. Barangsiapa yang berpuasa penuh satu bulan dan bersambung dengan bulan Ramadhan, maka dosa-dosa diampuni, dosa kecil maupun dosa besarnya walaupun ia berasal dari darah haram.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 55)Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: Ketika bulan Sya’ban tiba Ali Zainal Abidin (sa) mengumpulkan para sahabatnya kemudian berkata: “Wahai sahabat-sahabatku,
tahukah kalian bulan apakah ini? Bulan ini adalah bulan Sya’ban, Nabi saw bersabda : ‘Bulan Sya’ban adalah bulanku, berpuasalah kamu di bulan ini karena cinta kepada Nabimu dan mendekatkan diri kepada Tuhanmu’. Aku bersumpah, demi Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku mendengar ayahku Al-Husein (sa) berkata: ‘Aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) berkata: ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Sya’ban karena cinta kepada Rasulullah saw dan mendekatkan diri kepada Allah, Dia mendekatkannya pada kemuliaan-Nya pada hari kiamat dan mewajibkan baginya surga’.” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: Ketika bulan Sya’ban tiba Ali Zainal Abidin (sa) mengumpulkan para sahabatnya kemudian berkata: “Wahai sahabat-sahabatku, tahukah kalian bulan apakah ini? Bulan ini adalah bulan Sya’ban, Nabi saw bersabda : ‘Bulan Sya’ban adalah bulanku, berpuasalah kamu di bulan ini karena cinta kepada Nabimu dan mendekatkan diri kepada Tuhanmu’. Aku bersumpah, demi Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku mendengar ayahku Al-Husein (sa) berkata: ‘Aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) berkata: ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Sya’ban karena cinta kepada Rasulullah saw dan mendekatkan diri kepada Allah, Dia mendekatkannya pada kemuliaan-Nya pada hari kiamat dan mewajibkan baginya surga’.” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)
Langganan:
Postingan (Atom)



































